Persoalan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
Bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, tahun 2010 juga merupakan ‘tahun penderitaan”. Meskipun tahun-tahun sebelumnya TKI Indonesia memang sudah sangat menderita, tetapi pada tahun ini kasus kekerasan terhadap TKI telah mengundang kemarahan rakyat terhadap pemerintah.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya kita mendengar kasus Nirmala Bonat dan Siti Hajar, maka tahun ini kita mendengar nasib yang lebih tragis dari dua TKW Indonesia, yaitu Sumiati dan Kikim Komalasari.
Berdasarkan catatan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu RI), pihaknya mempunyai catatan mengenai 4.532 laporan kasus terkait tenaga kerja Indonesia (TKI) selama 2010, yang sebagian besar adalah pelanggaran kontrak, beban kerja, jam kerja, pembayaran gaji, serta pelecehan seksual.
sementara Kepala Litbang Kemenkum HAM, Prof Dr Ramly Hutabarat SH, menyampaikan kepada peserta diskusi “Hubungan Bilateral Indonesia – Malaysia”, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP UNS, bahwa sepanjang tahun 2010 saja, terjadi 3.835 kasus penganiayaan dan 2.500 kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan TKW.
Persoalan buruh migran, sebagaimana diterangkan dengan jelas sekali oleh Lenin, adalah juga persoalan imperialisme. Negara-negara imperialis telah memobilisasi pekerja-pekerja dari dunia ketiga untuk dipekerjakan pada sektor pekerjaan ber-upah rendah di negeri kapitalis maju, sekaligus untuk mengistimewakan pekerja tertentu di negeri imperialis.
Sementara itu, akibat dari praktek neoliberalisme dalam sepuluh tahun terakhir, sebagian besar rakyat kita, di desa dan di kota, telah kehilangan pekerjaan. Akhirnya, sebagian besar diantara mereka telah direkrut dan dikirim sebagai pekerja migran. Pendek kata, neoliberalisme punya andil besar dalam mengeksploitasi pekerja migran.
Kesimpulan: Sifat kolonialisme semakin mendominasi dalam perekonomian Indonesia
Kenyataan ekonomi pada tahun 2010 ini semakin mempertegas, bahwa sebagian besar ekonomi Indonesia telah dikuasai oleh kaum kapitalis besar asing, terutama kapitalis besar dari Amerika, Eropa, dan Jepang. Penguasaan itu meliputi bagian terbesar dari perusahaan industri, perdagangan, dan keuangan: bank-bank, pabrik-pabrik, tambang2, pengangkutan, perkebunan, dsb.
Dengan dikuasainya perbankan dan pasar modal (lebih dari 60%), maka pihak asing sudah mengontrol sebagian besar kapital di dalam negeri. Dan, dengan begitu pula, maka sebagian besar keuntungan dari aktivitas ekonomi di dalam negeri telah diangkut ke negeri-negeri imperialis.
Kecuali perusahaan-perusahaan kecil, seperti industri rokok, batik, tekstil, dan kerajinan tangan, hampir semua perusahaan yang besar pengaruhnya terhadap perekonomian nasional telah dipegang oleh pihak asing; a) perusahaan berteknik modern (elektronik, otomotif, dll), pabrik-pabrik besar (tekstil, garmen, makanan dan minuman, bijih besi, baja, logam, dll), perusahaan-perusahaan pertambangan (migas, batubara, emas, timah, dll). b) perusahaan alat-alat perhubungan dan telekomunikasi, seperti penerbangan, perusahaan telekomunikasi, stasiun penyiaran, dll. c) perusahaan bank dan asuransi.
Corak kolonial juga terlihat dalam penerimaan kas negara, yang sebagian besarnya didapatkan dari pajak, baik langsung maupun tidak langsung. Bahkan, hampir seluruh aktivitas ekonomis rakyat telah dikenakan pajak.
Orang-orang melarat dan para penganggur, meskipun berusaha disembunyikan dengan memanipulasi angka statistik, tetapi terlihat jelas berkeliaran di kota-kota besar untuk mencari makan dan pekerjaan. Mereka tidur di trotoar, di kolong-kolong jembatan, emperan toko, dan gerobak-gerobak. Di Jakarta, ada yang disebut dengan “manusia gerobak”, yaitu orang miskin yang sudah tak punya rumah dan keluarganya tinggal di gerobak yang dibawanya kemana-mana.
Tidak salah kemudian jika ada yang menyebut bahwa tahun 2010 sebagai tahun “menuju kebangkrutan”. Meskipun akhirnya banyak perusahaan nasional yang tumbang, tetapi situasi itu telah melahirkan sentimen nasionalisme dan anti-penjajahan yang semakin kuat.
Senin, 03 Januari 2011
tugas 3
Penumpukan utang luar negeri
Hanya lima tahun memerintah, berdasarkan catatan Buku Statistik Utang Indonesia yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI), SBY berhasil menambah utang luar negeri Indonesia Rp300 triliun. Hingga bulan April 2010, total utang luar negeri Indonesia sudah menghampiri Rp2000 trilyun, atau setara dengan dua kali APBN kita.
Terakhir, bulan desember ini, SBY kembali menambah utang melalui ADB sebesar 200 juta US Dollar, dan katanya, ini akan dipergunakan untuk mendanai reformasi ekonomi di Indonesia.
Meski terjadi peningkatan utang yang sangat signifikan, tetapi pemerintah berusaha mengelak dengan menyatakan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) telah menurun, yaitu dari 89 persen menjadi 32 persen.
Ada dua hal yang perlu dibantah terkait pernyataan pemerintah di atas: Pertama, Utang luar negeri tidak bisa dibandingkan dengan PDB. Sebab, PDB tidak mencerminkan produksi Indonesia, tetapi juga ada porsi asing yang besar di dalamnya. Peningkatan PDB bukan karena naiknya produktifitas nasional, melainkan karena aktivitas perusahaan atau bisnis pihak asing. Kedua, meskipun rasio utang terhadap PDB menurun, namun stock utang justru terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Ada peningkatan stock utang sekitar 30% dalam lima tahun ini.
tugas 3
Penumpukan utang luar negeri
Hanya lima tahun memerintah, berdasarkan catatan Buku Statistik Utang Indonesia yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI), SBY berhasil menambah utang luar negeri Indonesia Rp300 triliun. Hingga bulan April 2010, total utang luar negeri Indonesia sudah menghampiri Rp2000 trilyun, atau setara dengan dua kali APBN kita.
Terakhir, bulan desember ini, SBY kembali menambah utang melalui ADB sebesar 200 juta US Dollar, dan katanya, ini akan dipergunakan untuk mendanai reformasi ekonomi di Indonesia.
Meski terjadi peningkatan utang yang sangat signifikan, tetapi pemerintah berusaha mengelak dengan menyatakan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) telah menurun, yaitu dari 89 persen menjadi 32 persen.
Ada dua hal yang perlu dibantah terkait pernyataan pemerintah di atas: Pertama, Utang luar negeri tidak bisa dibandingkan dengan PDB. Sebab, PDB tidak mencerminkan produksi Indonesia, tetapi juga ada porsi asing yang besar di dalamnya. Peningkatan PDB bukan karena naiknya produktifitas nasional, melainkan karena aktivitas perusahaan atau bisnis pihak asing. Kedua, meskipun rasio utang terhadap PDB menurun, namun stock utang justru terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Ada peningkatan stock utang sekitar 30% dalam lima tahun ini.
Hanya lima tahun memerintah, berdasarkan catatan Buku Statistik Utang Indonesia yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI), SBY berhasil menambah utang luar negeri Indonesia Rp300 triliun. Hingga bulan April 2010, total utang luar negeri Indonesia sudah menghampiri Rp2000 trilyun, atau setara dengan dua kali APBN kita.
Terakhir, bulan desember ini, SBY kembali menambah utang melalui ADB sebesar 200 juta US Dollar, dan katanya, ini akan dipergunakan untuk mendanai reformasi ekonomi di Indonesia.
Meski terjadi peningkatan utang yang sangat signifikan, tetapi pemerintah berusaha mengelak dengan menyatakan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) telah menurun, yaitu dari 89 persen menjadi 32 persen.
Ada dua hal yang perlu dibantah terkait pernyataan pemerintah di atas: Pertama, Utang luar negeri tidak bisa dibandingkan dengan PDB. Sebab, PDB tidak mencerminkan produksi Indonesia, tetapi juga ada porsi asing yang besar di dalamnya. Peningkatan PDB bukan karena naiknya produktifitas nasional, melainkan karena aktivitas perusahaan atau bisnis pihak asing. Kedua, meskipun rasio utang terhadap PDB menurun, namun stock utang justru terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Ada peningkatan stock utang sekitar 30% dalam lima tahun ini.
tugas 3
Penghancuran Industri Nasional
Tahun 2010 dapat dikatakan sebagai tahun kematian industri nasional. Beberapa jenis industri yang selama ini menjadi benteng terakhir, seperti baja, kretek, produk pertanian, dan lain sebagainya, telah dihancurkan dengan jalan dijual atau dibangkrutkan.
Pada tahun 2006, Indonesia diperkirakan mempunyai 29 ribu perusahaan manufaktur skala menengah, tetapi sekarang jumlahnya tidak melebihi 27 ribu. Industri skala mikro dan kecil pun anjlok 2,1 persen dan 5 persen dihantam oleh kebijakan neoliberalisme.
Jika di masa sebelumnya, proses de-industrialisasi baru menghantam perusahaan-perusahaan menengah dan kecil, maka sekarang ini (tahun 2010) korbannya sudah mencakup perusahaan-perusahaan tulang punggung
Sementara itu, sebagian sektor industri telah menurunkan kapasitas produksinya hingga 25% dari potensi produktifnya, antara lain, industri baja, sepatu dan tekstil. Salah satu penyebab penurunan kapasitas produksi itu adalah turunnya permintaan, terutama di pasar dunia, yang sekarang ini memang sedang dilanda krisis over-produksi.
Ada keterkaitan langsung antara krisis kelebihan produksi di negara maju dengan praktik penghancuran industri di negeri dunia ketiga. Sebab, dengan menghancurkan industri negeri dunia ketiga, maka industri negara maju kehilangan pesaing potensialnya dan dapat menguasai pasar negara dunia ketiga tersebut.
Fonemena inilah yang menjelaskan mengapa pemerintahan SBY-Budiono sangat agressif untuk menjalankan program privatisasi terhadap sejumlah BUMN paling strategis, yaitu PT. Krakatau Steel (penguasa baja nasional), PTPN III, IV, VII (penguasa sektor perkebunan/agrobisnis), dan dua raksasa perbankan nasional, Bank Mandiri dan Bank BNI.
Pada tahun 2010 ini, rejim SBY-Budiono berusaha memastikan privatisasi terhadap delapan BUMN, yaitu PTPN III, PTPN IV, PTPN VII, PT C Phrimissima, PT Kertas Padalarang, PT sarana Karya, Bank Mandiri, dan Bank BNI.
Industri kretek, salah satu industri yang tumbuh dengan corak nusantara dan mempergunakan modal/sumber daya di dalam negeri, juga sedang berada di mulut kehancuran. Sejumlah lembaga asing, seperti Bloomberg Initiative, telah menggelontorkan dana kepada sejumlah lembaga pemerintah dan ormas untuk mengkampanyekan “anti-rokok” dan pembatasan tembakau.
Perusahaan asing juga sangat berjaya dalam mengusai sumber energi nasional, terutama migas dan batubara, yang menyebabkan industri nasional kesulitan mendapatkan pasokan energi. Hal ini semakin diperparah dengan kebijakan energi pemerintahan SBY-Budiono, yang justru mengutamakan ekspor gas dan batubara ke luar negeri sebelum kebutuhan domestik terpenuhi.
Ada pula program Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD), yang oleh penganjurnya dimaksudkan untuk mencegah kerusakan hutan lebih lanjut di seluruh dunia, justru menjadi kesempatan baru bagi imperialis untuk menguasai hutan kita dan menghidupi bisnis karbonnya.
Tahun 2010 dapat dikatakan sebagai tahun kematian industri nasional. Beberapa jenis industri yang selama ini menjadi benteng terakhir, seperti baja, kretek, produk pertanian, dan lain sebagainya, telah dihancurkan dengan jalan dijual atau dibangkrutkan.
Pada tahun 2006, Indonesia diperkirakan mempunyai 29 ribu perusahaan manufaktur skala menengah, tetapi sekarang jumlahnya tidak melebihi 27 ribu. Industri skala mikro dan kecil pun anjlok 2,1 persen dan 5 persen dihantam oleh kebijakan neoliberalisme.
Jika di masa sebelumnya, proses de-industrialisasi baru menghantam perusahaan-perusahaan menengah dan kecil, maka sekarang ini (tahun 2010) korbannya sudah mencakup perusahaan-perusahaan tulang punggung
Sementara itu, sebagian sektor industri telah menurunkan kapasitas produksinya hingga 25% dari potensi produktifnya, antara lain, industri baja, sepatu dan tekstil. Salah satu penyebab penurunan kapasitas produksi itu adalah turunnya permintaan, terutama di pasar dunia, yang sekarang ini memang sedang dilanda krisis over-produksi.
Ada keterkaitan langsung antara krisis kelebihan produksi di negara maju dengan praktik penghancuran industri di negeri dunia ketiga. Sebab, dengan menghancurkan industri negeri dunia ketiga, maka industri negara maju kehilangan pesaing potensialnya dan dapat menguasai pasar negara dunia ketiga tersebut.
Fonemena inilah yang menjelaskan mengapa pemerintahan SBY-Budiono sangat agressif untuk menjalankan program privatisasi terhadap sejumlah BUMN paling strategis, yaitu PT. Krakatau Steel (penguasa baja nasional), PTPN III, IV, VII (penguasa sektor perkebunan/agrobisnis), dan dua raksasa perbankan nasional, Bank Mandiri dan Bank BNI.
Pada tahun 2010 ini, rejim SBY-Budiono berusaha memastikan privatisasi terhadap delapan BUMN, yaitu PTPN III, PTPN IV, PTPN VII, PT C Phrimissima, PT Kertas Padalarang, PT sarana Karya, Bank Mandiri, dan Bank BNI.
Industri kretek, salah satu industri yang tumbuh dengan corak nusantara dan mempergunakan modal/sumber daya di dalam negeri, juga sedang berada di mulut kehancuran. Sejumlah lembaga asing, seperti Bloomberg Initiative, telah menggelontorkan dana kepada sejumlah lembaga pemerintah dan ormas untuk mengkampanyekan “anti-rokok” dan pembatasan tembakau.
Perusahaan asing juga sangat berjaya dalam mengusai sumber energi nasional, terutama migas dan batubara, yang menyebabkan industri nasional kesulitan mendapatkan pasokan energi. Hal ini semakin diperparah dengan kebijakan energi pemerintahan SBY-Budiono, yang justru mengutamakan ekspor gas dan batubara ke luar negeri sebelum kebutuhan domestik terpenuhi.
Ada pula program Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD), yang oleh penganjurnya dimaksudkan untuk mencegah kerusakan hutan lebih lanjut di seluruh dunia, justru menjadi kesempatan baru bagi imperialis untuk menguasai hutan kita dan menghidupi bisnis karbonnya.
tugas 3
Ekonomi Kita Sekarang 'Kapitalis Rampok'
Jakarta – Koordinator Grup Diskusi Angkatan 77-78 Moh Hatta Taliwang yang juga anggota Gerakan Indonesia Bersih (GIB) mempertanyakan sitem ekonomi yang dianut pemerintah pimpinan Presiden SBY sekarang ini yang cenderung menjadi ‘kapitalisme rampok’ serta menjadikan yang kaya semakin kaya dan rakyat miskin semakin melarat.
“Sekarang ada 40 orang kaya di Indonesia dengan kekayaan setara 70 persen APBN (sekitar Rp 650 triliun) dengan pertambahan kekayaan setahun ini 60 persen. Dalam beberapa tahun lagi akan melebihi APBN? Inikah out put dari sistem ekonomi kapitalisme Abad ke-19 yang masih diterapkan di Indonesia yang hakekatnya sistem kapitalisme rampok?” tegas Hatta Taliwang dalam pesan singkatnya ke jakartapress.com, Rabu (29/12/2010).
Mantan Anggota DPR RI dari Fraksi Reformasi ini pun mengutip pesan Bung Karno: ‘Sosio Nasionalisme ialah memperbaiki keadaan masyarakat sehingga keadaan yang kini pincang, tidak ada kaum yang papa, tertindas dan cilaka’. Dan juga pesan Bung Hatta: ‘Tujuan utama revolusi nasional adalah mengangkat posisi ekonomi pribumi sehingga terbebas dari tekanan dan penghisapan”.
Secara terpisah, pemerhati sosial dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Tubagus Januar Soemawinata menilai, pemerintahan SBY gagal memperbaiki recovery (perbaikan) ekonomi, apabila dilihat dari semakin banyaknya pengangguran dan tidak bekurangnya angka kemiskinan. “Ditambah lagi, biaya pendidikan semakin mahal dan ongkos rumah sakit semakin sulit dijangkau rakyat miskin,” ungkap mantan aktivis ini.
Tidak hanya itu, lanjutnya, sekarang ini harga sembilan bahan pokok semakin melejit, harga beras melonjak, sayur mayur pun melangit dan bahkan harga cabe meroket. “Ini pun pemerintah masih bakal mengambil kebijakan impor beras sehingga merugikan petani. Kita cari pemimpin yang betul-betul menjalankan amanat untuk kepentingan rakyat, bukan sekedar janji dan omong kosong dengan pencitraan,” tandas Januar.
Ia pun heran dengan pasca reformasi di era rezim kekuasaan SBY sekarang ini masih marak terjadi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), ditambah lagi penegakan hukum yang tebang pilih. “Kalau begini terus, tidak perlu menunggu 2014, harus digulirkan people power dan revolusi untuk mencari pemimpin yang bersumpah tidak memperkaya diri, keluarga, kroni dan partai politiknya belaka,” serunya.
Jakarta – Koordinator Grup Diskusi Angkatan 77-78 Moh Hatta Taliwang yang juga anggota Gerakan Indonesia Bersih (GIB) mempertanyakan sitem ekonomi yang dianut pemerintah pimpinan Presiden SBY sekarang ini yang cenderung menjadi ‘kapitalisme rampok’ serta menjadikan yang kaya semakin kaya dan rakyat miskin semakin melarat.
“Sekarang ada 40 orang kaya di Indonesia dengan kekayaan setara 70 persen APBN (sekitar Rp 650 triliun) dengan pertambahan kekayaan setahun ini 60 persen. Dalam beberapa tahun lagi akan melebihi APBN? Inikah out put dari sistem ekonomi kapitalisme Abad ke-19 yang masih diterapkan di Indonesia yang hakekatnya sistem kapitalisme rampok?” tegas Hatta Taliwang dalam pesan singkatnya ke jakartapress.com, Rabu (29/12/2010).
Mantan Anggota DPR RI dari Fraksi Reformasi ini pun mengutip pesan Bung Karno: ‘Sosio Nasionalisme ialah memperbaiki keadaan masyarakat sehingga keadaan yang kini pincang, tidak ada kaum yang papa, tertindas dan cilaka’. Dan juga pesan Bung Hatta: ‘Tujuan utama revolusi nasional adalah mengangkat posisi ekonomi pribumi sehingga terbebas dari tekanan dan penghisapan”.
Secara terpisah, pemerhati sosial dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Tubagus Januar Soemawinata menilai, pemerintahan SBY gagal memperbaiki recovery (perbaikan) ekonomi, apabila dilihat dari semakin banyaknya pengangguran dan tidak bekurangnya angka kemiskinan. “Ditambah lagi, biaya pendidikan semakin mahal dan ongkos rumah sakit semakin sulit dijangkau rakyat miskin,” ungkap mantan aktivis ini.
Tidak hanya itu, lanjutnya, sekarang ini harga sembilan bahan pokok semakin melejit, harga beras melonjak, sayur mayur pun melangit dan bahkan harga cabe meroket. “Ini pun pemerintah masih bakal mengambil kebijakan impor beras sehingga merugikan petani. Kita cari pemimpin yang betul-betul menjalankan amanat untuk kepentingan rakyat, bukan sekedar janji dan omong kosong dengan pencitraan,” tandas Januar.
Ia pun heran dengan pasca reformasi di era rezim kekuasaan SBY sekarang ini masih marak terjadi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), ditambah lagi penegakan hukum yang tebang pilih. “Kalau begini terus, tidak perlu menunggu 2014, harus digulirkan people power dan revolusi untuk mencari pemimpin yang bersumpah tidak memperkaya diri, keluarga, kroni dan partai politiknya belaka,” serunya.
tugas 3
PUISI SEORANG ACOUNTING
PUISI SEORANG ACOUNTING : Wahai bidadariku....
Rekonsiliasikanlah hatiku dan hatimu
Seimbangkanlah neraca saldo kita
Yang membalut laporan laba rugi kita
Dan cerahkanlah laporan arus kas kita selamanya
Jika di hari closing nanti, Tidak ada kecocokkan saldo
mungkin cinta kita harus dijurnal balik...
PUISI SEORANG ACOUNTING : Wahai bidadariku....
Rekonsiliasikanlah hatiku dan hatimu
Seimbangkanlah neraca saldo kita
Yang membalut laporan laba rugi kita
Dan cerahkanlah laporan arus kas kita selamanya
Jika di hari closing nanti, Tidak ada kecocokkan saldo
mungkin cinta kita harus dijurnal balik...
Selasa, 26 Oktober 2010
tuliasan tentang SHU
SHU Koperasi di Sumbar Capai Rp67,40 Miliar
Padang - Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi di Sumatra Barat (Sumbar) hingga Juni 2009 tercatat mencapai Rp67,40 miliar dari 2.462 unit yang aktif tersebar pada 19 kabupaten dan kota di provinsi itu.
Demikian disampaikan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sumbar, Syafrial, saat ekspose perkembangan kopersi dan UKM di Sumbar kepada Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Meneg KUKM) Syarifuddin Hasan di Kantor Gubernur Sumbar, Senin.
Syafrial menjelaskan, data keseluruhan koperasi di Sumbar tercatat 3.425 unit, terdiri koperasi yang aktif 2.462 dan 942 yang tidak aktif.
Sedangkan jumlah anggota koperasi di Sumbar sebanyak 549.338 orang dan total karyawan tercatat 5.297 orang.
Sementara itu, jelasnya, bahwa modal sendiri koperasi yang aktif di Sumbar sampai Juni 2009 sebesar Rp951,78 miliar dan modal luar sebesar Rp547,86 miliar.
Jumlah koperasi begitu besar perannya dalam membantu ekonomi masyarakat dan perekonomian di Sumatra Barat.
"Dalam mendorong pertumbuhan koperasi dan UKM di Sumbar dilakukan secara terpadu dengan melibatkan lintas dinas terkait yang memiliki lingkung bidang ekonomi," katanya.
Perkembangan koperasi di Sumbar, berbasis komoditi di setiap kabupaten dan kota, di antaranya jagung, kakao, ikan air tawar, sayuran, sapi potong, pisang dan lainnya.
Dia menjelaskan, sebanyak 36 koperesi telah dilakukan pembinaan, sebanyak 21 di antaranya sudah diberi penguatan modal senilai Rp50 juta masing-masing koperasi.
Lebih lanjut Syafrial menjelaskan, pembinaan terhadap pedagang kaki lima (PKL) pada 2008 dengan pola register sebanyak 1.000 PKL yang integrasikan ke dalam lima koperasi di lima kab/kota.
PKL yang telah diregister tersebut, diberi penguatan modal sebesar Rp300 ribu/PKL yang disalurkan melalui koperasi.
Sedangkan pada 2009 sebanyak 4.000 PKL telah diregister yang diintegrasikan ke dalam 59 koperasi pada 19 kab/kota dengan bantuan modal Rp500 ribu/PKL di provinsi itu.
Dalam kesempatan itu, Syafrial juga menyinggung penyaluran kredit usaha rakyat dari sejumlah bank pelaksana sebesar Rp361,69 miliar dengan jumlah UKM tercatat 43.021 orang.
Padang - Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi di Sumatra Barat (Sumbar) hingga Juni 2009 tercatat mencapai Rp67,40 miliar dari 2.462 unit yang aktif tersebar pada 19 kabupaten dan kota di provinsi itu.
Demikian disampaikan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sumbar, Syafrial, saat ekspose perkembangan kopersi dan UKM di Sumbar kepada Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Meneg KUKM) Syarifuddin Hasan di Kantor Gubernur Sumbar, Senin.
Syafrial menjelaskan, data keseluruhan koperasi di Sumbar tercatat 3.425 unit, terdiri koperasi yang aktif 2.462 dan 942 yang tidak aktif.
Sedangkan jumlah anggota koperasi di Sumbar sebanyak 549.338 orang dan total karyawan tercatat 5.297 orang.
Sementara itu, jelasnya, bahwa modal sendiri koperasi yang aktif di Sumbar sampai Juni 2009 sebesar Rp951,78 miliar dan modal luar sebesar Rp547,86 miliar.
Jumlah koperasi begitu besar perannya dalam membantu ekonomi masyarakat dan perekonomian di Sumatra Barat.
"Dalam mendorong pertumbuhan koperasi dan UKM di Sumbar dilakukan secara terpadu dengan melibatkan lintas dinas terkait yang memiliki lingkung bidang ekonomi," katanya.
Perkembangan koperasi di Sumbar, berbasis komoditi di setiap kabupaten dan kota, di antaranya jagung, kakao, ikan air tawar, sayuran, sapi potong, pisang dan lainnya.
Dia menjelaskan, sebanyak 36 koperesi telah dilakukan pembinaan, sebanyak 21 di antaranya sudah diberi penguatan modal senilai Rp50 juta masing-masing koperasi.
Lebih lanjut Syafrial menjelaskan, pembinaan terhadap pedagang kaki lima (PKL) pada 2008 dengan pola register sebanyak 1.000 PKL yang integrasikan ke dalam lima koperasi di lima kab/kota.
PKL yang telah diregister tersebut, diberi penguatan modal sebesar Rp300 ribu/PKL yang disalurkan melalui koperasi.
Sedangkan pada 2009 sebanyak 4.000 PKL telah diregister yang diintegrasikan ke dalam 59 koperasi pada 19 kab/kota dengan bantuan modal Rp500 ribu/PKL di provinsi itu.
Dalam kesempatan itu, Syafrial juga menyinggung penyaluran kredit usaha rakyat dari sejumlah bank pelaksana sebesar Rp361,69 miliar dengan jumlah UKM tercatat 43.021 orang.
Langganan:
Komentar (Atom)